in

12. „Andaikan kita percaya, bahwa orang-orang kristen tidak percaya kepada tiga Allah, maka muncul pertanyaan: Darimana Messias menerima keAllahanNya?

Dapatkah seorang manusia biasa, dikandung dalam rahim seorang wanita, menyusu seperti layaknya anak-anak, dididik seperti setiap anak pada umumnya… – dapat disebut sebagai Allah? Bagaimana kita bisa berbicara tentang kebesaran dan transendensi Allah?“

Apakah kita dapat mendikte Allah dan memberikan sebuah definisi tentangNya yang cocok dengan segala apa yang dilakukanNya, dengan kebesaran dan trasendensiNya? Kalau kita mengatakan: Allāhu Akbar, bukankah itu berarti, bahwa kebesaran Allah itu mengatasi segala pikiran kita? Jika Allah memutuskan untuk menjadi manusia dalam kerahiman dan belaskasihanNya yang tak terbatas, supaya kita manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan dan cintaNya, apakah kita manusia dapat merintangiNya? Silahkan baca kembali buku ini di bab ke-2, IV.

Es freut mich, dass Sie die Texte unserer Webseite https://antwortenanmuslime.de auf www.amicidilazzaro veröffentlichen wollen und erlauben es gerne.
P. Christian W. Troll SJ (30/4/22)

1: Bagaimana menyelaraskan Trinitas dengan keesaan Tuhan dalam Perjanjian Lama?

2. „Anak manusia bukannya dijadikan, melainkan dilahirkan. Walaupun demikian, bukankah Ia tidak sehakikat dengan Allah? Apakah ada arti dibalik pernyataan iman seperti ini?